Mudik Digital di Majalengka: Ketika Perantau yang Tak Bisa Pulang Rayakan Lebaran Lewat Video Call
Tradisi mudik digital makin marak di Majalengka. Para perantau yang tak bisa pulang tetap merasakan hangatnya Lebaran lewat video call. Bukti bahwa teknologi mempertemukan keluarga meski terpisah jarak.
MAJALENGKA – Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk pulang kampung saat Hari Raya Idul Fitri. Di tengah tradisi mudik yang begitu kuat di Indonesia, sebagian perantau asal Majalengka harus merayakan Lebaran dari jauh. Namun di era teknologi, jarak tak lagi sepenuhnya memisahkan. Muncul sebuah fenomena baru yang semakin terasa setiap tahun: mudik digital.
Mudik digital adalah cara para perantau yang tidak bisa pulang kampung tetap merasakan hangatnya Lebaran bersama keluarga melalui panggilan video. Lewat layar ponsel, mereka ikut menyaksikan suasana rumah, mendengar suara takbir, hingga melihat hidangan Lebaran yang tersaji di meja makan.
Di sebuah rumah sederhana di Majalengka, keluarga besar berkumpul seperti biasanya saat Idul Fitri tiba. Ketupat, opor ayam, dan kue-kue Lebaran tersaji di ruang tamu. Namun ada satu anggota keluarga yang hanya bisa hadir melalui layar ponsel.
Dialah Rizky Maulana (27), seorang perantau asal Majalengka yang kini bekerja di luar negeri. Tahun ini, ia kembali tidak bisa pulang kampung karena keterbatasan waktu kerja.
“Setiap Lebaran pasti kangen rumah. Tapi sekarang masih bisa video call dengan keluarga, jadi rasanya sedikit terobati,” ujar Rizky melalui panggilan video.
Di layar ponsel itu, ia menyaksikan keluarganya saling bersalaman setelah salat Idul Fitri. Ibunya bahkan mendekatkan kamera agar Rizky bisa melihat suasana ruang tamu yang penuh keluarga.
Meski tidak bisa memeluk orang tuanya secara langsung, momen sederhana itu tetap menghadirkan kehangatan yang sulit dijelaskan.
Fenomena mudik digital seperti ini kini semakin banyak terjadi di Majalengka. Banyak perantau yang bekerja di kota besar, bahkan di luar negeri, tidak selalu bisa pulang setiap tahun.
Namun teknologi menghadirkan cara baru untuk menjaga hubungan keluarga. Panggilan video, pesan suara, hingga foto yang dibagikan secara langsung membuat jarak terasa lebih dekat.
Siti Nurhayati (54), ibu dari salah satu perantau, mengaku video call menjadi cara keluarganya tetap merasakan kebersamaan saat Lebaran.
“Memang beda rasanya kalau tidak pulang. Tapi setidaknya masih bisa lihat wajah anak lewat video call,” katanya.
Bagi banyak keluarga di Majalengka, momen ini menjadi bukti bahwa makna Lebaran tidak hanya soal perjalanan pulang secara fisik. Lebaran adalah tentang kebersamaan, doa, dan saling memaafkan, meski harus dipisahkan oleh jarak ribuan kilometer.
Ketika takbir menggema di langit Majalengka dan keluarga berkumpul di ruang tamu, layar ponsel sering kali menjadi jendela kecil yang menghubungkan rindu.
Di situlah mudik digital hadir: bukan sekadar teknologi, tetapi cara baru bagi para perantau untuk tetap pulang, setidaknya lewat suara, senyum, dan doa yang saling tersampaikan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

