TIMES MAJALENGKA, SURABAYA – Di tengah rintik hujan yang tak kunjung reda, suara sekop dan teriakan tim evakuasi saling bersahutan. Kabut pagi menyelimuti tebing curam Jalur Pacet-Cangar, tempat tragedi longsor memutus harapan, Jumat pagi (4/4/2025).
Namun dari balik reruntuhan tanah dan batu, muncul wajah-wajah penuh dedikasi dan keberanian. Mereka seakan menyibak harapan dengan tangan dan hati. Mereka adalah prajurit TNI dari Kodim 0815 Mojokerto.
Tanah longsor yang terjadi pada Kamis (3/4/2025) sore di Desa Pacet, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Longsoran tanah tidak hanya menutup jalan. Juga mengubur dua kendaraan yang melintas.
Di dalamnya, nyawa-nyawa terperangkap tanpa bisa meminta tolong. Detik-detik yang menegangkan itu langsung disambut dengan respons cepat dari Kodim 0815/Mojokerto.
Kodim mengirimkan satu peleton pasukan untuk bergabung dalam operasi penyelamatan bersama Polres, Basarnas, BPBD, PUPR, Tahura, Satpol PP, Dishub, PMI, dan relawan dari berbagai elemen masyarakat.
Cuaca buruk menjadi ujian pertama. Malam pertama berlalu dengan pencarian yang terganggu derasnya hujan. Alat berat tak mampu bergerak cepat karena medan lumpur dan jalan terjal.
Namun tekad tak surut. Di balik jas hujan dan helm, mata para prajurit tak pernah lelah menatap tumpukan tanah, berharap bisa menemukan tanda-tanda kehidupan atau mengangkat tubuh korban dengan layak.
Jumat pagi (4/4/2025), langit sedikit bersahabat. Tim gabungan kembali turun dengan semangat baru. Di antara suara genset dan mesin ekskavator, terdengar seruan penuh harap; “Temukan mereka, secepatnya!”
Suasana begitu dramatis saat tim berhasil mengevakuasi tiga anggota keluarga dari Desa Jatijejer. Tangis haru dan kelegaan mengiringi proses itu. Mereka segera dilarikan ke RSUD Sumberglagah untuk penanganan medis.
Lebih memilukan lagi adalah evakuasi tujuh korban dari Sidoarjo. Satu per satu jasad mereka diangkat dari timbunan material longsor.
Para petugas, dengan hati-hati, mengangkat korban yang telah diam dalam keheningan panjang. Ada relawan yang meneteskan air mata. Tak kuasa melihat anak kecil dalam pelukan ibunya, ditemukan dalam posisi melindungi.
Prajurit TNI memegang tangan relawan yang mulai gemetar. “Kita kuat, kita harus teruskan,” ujar seorang prajurit sembari memberikan air minum.
Dalam suasana penuh keheningan dan duka, semua elemen menyatu dalam satu semangat: kemanusiaan di atas segalanya.
Mayor Inf Suwadi, Kasdim 0815 Mojokerto, berdiri di tengah lokasi kejadian. Wajahnya lelah, tapi sorot matanya tak padam. “Kami di sini bukan sekadar menjalankan tugas, tapi menjalankan amanah nurani. Ini bukan tentang seragam, ini tentang hati,” ungkapnya, mengimbau masyarakat di daerah rawan longsor untuk lebih waspada.
Bantuan logistik, tenda darurat, serta dapur umum mulai didirikan. Kodim 0815 tak hanya membantu evakuasi, tetapi juga mendampingi warga yang trauma. Mereka mengajak anak-anak bercengkerama, menenangkan para ibu yang kehilangan harta benda bahkan anggota keluarga.
Setiap langkah di tanah yang gembur itu adalah langkah kemanusiaan. Mereka tidak hanya mengangkat korban dari reruntuhan, tetapi juga mengangkat semangat warga yang nyaris patah.
Kehadiran TNI dan unsur gabungan menjadi bukti nyata bahwa negara hadir saat rakyat membutuhkan.
Musibah ini mengajarkan kita banyak hal. Tentang ketangguhan di tengah kesulitan, tentang kasih sayang yang melampaui batas profesi, tentang kerja sama yang menghidupkan harapan di tengah duka.
Longsor boleh meruntuhkan tanah, tapi tidak pernah bisa meruntuhkan rasa kemanusiaan. Dan selama prajurit-prajurit seperti mereka masih ada, Indonesia akan selalu punya harapan. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Kisah Kemanusiaan di Balik Longsor Pacet Mojokerto: Tentara Itu Datang Membawa Harapan
Pewarta | : Syarifah Latowa |
Editor | : Deasy Mayasari |