https://majalengka.times.co.id/
Wisata

Lewat Flying Fox, Wisata Slumpring di Tegal Jadi Ruang Kreativitas Mahasiswa UMP

Minggu, 11 Januari 2026 - 19:00
Lewat Flying Fox, Wisata Slumpring di Tegal Jadi Ruang Kreativitas Mahasiswa UMP Wigi Anugerah Aelana, Ketua Mapala Satria UMP Purwokerto dan Khayi Wisata Slumpring Tegal (Foto: Cahyo Nugroho/TIMES Indonesia)

TIMES MAJALENGKA, TEGAL – Semilir angin  pegunungan Bumijawa berembus pelan di sela rimbunnya pepohonan Desa Cempaka, Kabupaten Tegal.

Aroma kuliner tradisional gorengan hangat, minuman herbal, dan jajanan khas desa bercampur dengan suara tawa pengunjung yang menikmati suasana alam Wisata Slumpring. 

Di antara ketenangan suasana Wisata Slumpring Desa Cempaka Bumijawa Tegal kini hadir pemandangan baru: seutas sling baja membentang di udara, membawa pengunjung meluncur cepat, menantang adrenalin lewat wahana Flying Fox.

Wisata Kuliner Slumpring yang terkenal dengan koin bambu sebagai alat tukar, perlahan bertransformasi. Tak lagi sekadar tempat bersantai dan menikmati hidangan tradisional, kawasan wisata berbasis alam ini menjelma menjadi ruang kolaborasi kreatif. 

Momentum Awal Kolaborasi

Awal 2026 Wisata Kuliner Slumpring Tegal menjadi momentum penting ketika keterlibatan mahasiswa mulai memberi warna baru bagi perkembangan Slumpring.

Khayi, pemilik Wisata Slumpring, menyadari sejak awal bahwa keberlanjutan wisata desa tidak bisa hanya mengandalkan keindahan alam. Diperlukan inovasi, ide segar, dan keterlibatan generasi muda agar destinasi ini terus hidup dan relevan.

“Sejak awal kami membuka diri untuk kolaborasi. Wisata Slumpring ingin tumbuh bersama anak muda, terutama mahasiswa. Mereka punya cara pandang yang berbeda dan berani mencoba hal baru,” kata Khayi saat ditemui di lokasi wisata, Minggu (11/1/2026).

Kolaborasi terbaru datang dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Melalui organisasi mahasiswa pecinta alam, Mapala Satria UMP, sebuah wahana Flying Fox kini berdiri di kawasan Wisata  Slumpring dan Kehadirannya langsung menarik perhatian pengunjung, terutama kalangan anak muda dan keluarga.

Bagi Mapala Satria UMP, proyek ini bukan sekadar menghadirkan permainan wisata. Ketua Mapala Satria UMP, Wigi Anugerah Aelana, menjelaskan bahwa Flying Fox ini lahir dari proses panjang yang melibatkan observasi lapangan, kajian keselamatan, hingga perhitungan teknis yang matang.

“Ketika pertama kali datang ke Slumpring, kami melihat potensi alamnya sangat besar. Kontur tanah, jarak antarpepohonan, dan lanskapnya mendukung untuk wahana petualangan ringan, Dari situlah kami mulai berdiskusi dan merancang Flying Fox ini,” ujar Wigi.

Keterlibatan Edukatif Mahasiswa

Proses pembangunan wahana melibatkan mahasiswa secara langsung. Mereka melakukan survei jalur, menentukan titik lepas dan pendaratan, hingga memastikan standar keamanan terpenuhi. Semuanya ini dilakukan sebagai pembelajaran di luar ruang kelas.

Lebih dari sekadar wahana rekreasi, Flying Fox menjadi media edukasi. Mahasiswa belajar tentang manajemen risiko, kerja tim, serta pentingnya berkomunikasi dengan masyarakat dan pengelola wisata. 

Di sisi lain,  masyarakat Desa Cempaka juga merasakan dampak positif dari kehadiran mahasiswa yang membawa pengetahuan dan semangat baru.

Perubahan pun mulai terasa. Wisata Kuliner Slumpring kini menawarkan pengalaman yang lebih beragam.

Pengunjung tak hanya duduk santai menikmati kuliner tradisional dan berkecimpung di Tuk Mudal atau danau kecil tetapi juga berani mencoba sensasi meluncur di udara, menikmati sudut pandang yang berbeda.

Tanpa Meninggalkan Ruh Wisata Slumpring

Bagi Khayi, inovasi semacam ini tetap harus berjalan seiring dengan menjaga identitas wisata desa. Kuliner tradisional, suasana alami, dan kearifan lokal tetap menjadi fondasi utama.

“Kuliner tradisional tetap menjadi ruh Wisata Slumpring. Flying Fox dan wahana lain hanyalah pelengkap agar pengunjung punya pengalaman yang lebih lengkap,” katanya.

Di tengah menjamurnya destinasi wisata modern dengan konsep serba instan, Wisata Slumpring memilih jalur berbeda. Ia tumbuh perlahan, berbasis kolaborasi, memberdayakan mahasiswa, dan juga  melibatkan masyarakat lokal. 

Flying Fox ini bukan sekadar wahana saja melainkan simbol pertemuan antara alam, kreativitas anak muda, dan semangat membangun wisata desa di Kabupaten Tegal secara berkelanjutan.

Di sinilah Wisata Slumpring menemukan kekuatannya sebuah ruang tempat ide-ide mahasiswa meluncur bebas, setinggi harapan untuk masa depan pariwisata desa yang lebih inklusif dan kreatif. (*)

Pewarta : Cahyo Nugroho
Editor : Ronny Wicaksono
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Majalengka just now

Welcome to TIMES Majalengka

TIMES Majalengka is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.